Bentar lagi masuk bulan Ramadhan...dan wewwww gw masih utang 3hari puasa... ckckckck... gak boleh terlambat nih.... Kebetulan lagi worldcup pas bgt sekalian nongton sekalian saur... Tapiiii, saur apaan yah... Bukan bulan puasa sulit cari makan dini hari.... #nasibanakkos
Iseng-iseng nyari info makan cepat saji... Yaaaa bisa ditebak, pasti mi lagi mi lagi... Makanan instan ini membuat gw kena radang usus berlanjut tipes... Huh...
Tapi gimana lagi, *mikir-mikir biarin deh, asal jangan sering2 :D
Nah skg.. Gimana biar si mi instant ini ttp membuat kenyang...???
Cekidot...! Bagus informasinya... :)
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
Menu Sahur dengan Makanan Instan
SEPERTI ketika sarapan di pagi hari, yang memasok minimal sepertiga dari kebutuhan zat gizi harian, demikian semestinya orang bersahur. Selain akan membuat tidak cepat lapar, pola makan demikian dapat membuat tubuh tetap fit, tidak gampang sakit, sehingga bisa dijadikan salah satu modal lancarnya berpuasa.
Agar tujuan tersebut tercapai, tidak ada salahnya hidangan yang disajikan dibuat semenarik mungkin. Memadukan aneka rupa bumbu dan bahan makanan, guna terciptanya sajian bermutu yang menggoda selera. Tentu saja untuk itu dibutuhkan waktu yang agak lama.
Problemnya, seperti sudah jadi rahasia umum, utamanya setelah melewati "tanjakan" (10 hari) pertama, terkadang muncul "penyakit" kesiangan. Waktu sahur demikian mepet, hingga pilihan menghidangkan sajian bermutu terabaikan.
Beruntung saat ini banyak makanan instan, baik mi, bihun, maupun bubur ayam. Barang-barang yang sekarang sudah bukan monopoli supermarket itu--sebab sudah "kelayapan" ke banyak warung di perkampungan--paling tidak bisa diandalkan untuk dijadikan teman bersahur, pencegah segera munculnya perasaan lapar kala berpuasa.
Pertanyaannya, manakala hal itu betul-betul terjadi, makanan instan apa yang sebaiknya dikonsumsi agar perut tidak segera keroncongan?
Mi, bihun, atau bubur ayam?
Supaya bisa berfungsi optimal, tubuh seharusnya bisa mempertahankan konsentrasi glukosa darah pada batas tertentu, 70-120 mg/100 ml dalam keadaan puasa. Bila kadarnya merosot, apalagi jika sampai 40-50 mg/100 ml, orang akan merasa gugup, pusing, lemas, dan tentu saja lapar, perutnya keroncongan. Karbohidrat merupakan pemasok utama glukosa darah, yang kemudian diubah menjadi energi. Jaringan tertentu hanya memperoleh energi darinya, seperti sel darah merah serta sebagian besar otak dan sistem saraf.
Beberapa makanan ada yang karbohidratnya gampang dipecah. Mengonsumsi makanan demikian, selain akan berdampak cepat menaikkan kadar glukosa darah, juga bisa membuat cepat lapar kembali karena kadar glukosa darahnya segera turun, gara-gara karbohidrat yang dikandungnya cepat habis. Dalam "kamus" gizi, makanan demikian dikenal dengan istilah makanan dengan indeks glikemik tinggi. Sebaliknya, ada pula yang disebut makanan dengan indeks glikemik rendah, yang tak bikin glukosa darah tiba-tiba ngebut, karena glukosanya dilepas perlahan, dan karbohidratnya lebih awet bertahan. Indeks glikemik makanan sendiri secara sederhana berarti urutan makanan berdasarkan efek langsung terhadap kadar glukosa darah.
Dengan demikian, supaya tidak buru-buru lemas dan lapar kala berpuasa, mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah saat sahur, merupakan keputusan yang tepat.
Penelitian untuk mengetahui indeks glikemik makanan instan pernah dilakukan di Poliklinik Metabolik Endokrinologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta. Makanan instan yang dijadikan sampel berbentuk mi, bihun, dan bubur ayam.
Tiap-tiap produk yang diuji coba menghasilkan 300 kalori atau setara dengan 75 g glukosa (semakin tinggi beban glukosa yang digunakan, semakin bermakna perbedaan yang didapat).
Dari hasil penelitian diketahui, mi terbukti memiliki nilai indeks glikemik paling rendah, yang berarti juga paling pas dijadikan andalan untuk santapan sahur saat kepepet, sedangkan bubur ayam memiliki indeks glikemik paling tinggi.
Beberapa rahasia
Kajian lebih lanjut berhasil menguak beberapa rahasia yang membuat hal itu terjadi. Pertama, dari sisi bahan baku. Mi memiliki indeks glikemik yang rendah karena bahan bakunya terigu. Terigu yang baik untuk mi biasanya terigu yang berasal dari penggilingan gandum durum, yakni jenis gandum berprotein tinggi.
Selain sebab terigu mengandung enzim inhibitor alpha-amilase, yang dapat menghambat proses pencernaan karbohidrat, granula-granulanya, dengan pati sebagai intinya, dibalut oleh protein net-work yang dapat menghambat hidrolisis pati pada lumen usus halus. Di samping itu, adonan mi yang membentuk gluten (interaksi pati-protein) dapat menurunkan tingkat pencernaan pati dan respons glikemiknya.
Kedua, cara pemasakan. Bubur ayam instan, yang bahan dasarnya beras, dengan komponen terbesarnya pati (90%), mempunyai persentase kenaikan paling besar karena pati/karbohidratnya lebih tergelatinisasi oleh pemanasan yang lebih lama (pemasakan bubur ayam instan sekitar 5-8 menit, sedangkan mi instan 3 menit). Pati tergelatinisasi akan lebih mudah dicerna dan diabsorpsi oleh tubuh.
Hal lain, walau kandungan protein pada bubur ayam terbilang tinggi, akibat pemanasan yang lama dan pengadukan saat dimasak, unsur tersebut selanjutnya mengalami denaturasi. Denaturasi protein mengakibatkan ikatan formasi protein menjadi resisten terhadap enzim pencernaan alias menjadi mudah dicerna.
Ketiga, menyangkut bumbu serta penambahan air/kuah. Persentase kenaikan/penurunan yang lebih kecil pada mi instan (kuah) dibandingkan dengan mi instan (goreng), yang memiliki kandungan gizi hampir sama, terletak pada kandungan natriumnya (selain dari bumbu, "bonus" natrium juga bisa didapat dari kecap yang biasa ditambahkan pada produk goreng). Natrium membantu dalam proses transpor karbohidrat. Sementara air atau kuah memengaruhi proses pencernaan dan absorpsi zat gizi dalam tubuh. Demikian pula antara bihun kuah dan bihun goreng.
Keempat, kandungan lemak. Lemak dapat memperlambat pengosongan lambung, menjadikan indeks glikemik makanan menjadi rendah. Itu sebabnya mi, yang kandungan lemaknya lebih banyak, lebih lambat menaikkan kadar gula darah ketimbang bihun atau bubur ayam.
Akan tetapi, andai saja mau sedikit mengakali, sebetulnya ada pula rahasia lain yang bisa diandalkan untuk lebih merendahkan nilai glikemik suatu hidangan. Caranya cukup sederhana, yaitu dengan menambahkan makanan sumber serat, semisal sayur, ke dalam hidangan.
Dengan demikian, kalau sahur kepepet, supaya hidangan mi instan tidak bikin cepat lapar, tidak segera membuat badan lemas bin letoy-perloyo, masaklah mi kuah Anda dengan tidak terlalu matang, kurangi bumbunya, tambahkan telur sebagai "bonus" lemak, penambah enak. Jangan lupa juga untuk mencemplungkan sayuran ke dalamnya.
Selamat menjalankan ibadah puasa. (Yuga Pramita)***
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
*-
Jadi nambah ilmu kan... :)
Moga bermanfaat artikelnya.. ^.^
✿charmingnyit✿